THE FRIEND OF ME

Senin, 09 Mei 2011

MAJAPAHIT WILWATIKTA : PENDEWAAN TOKOH-TOKOH PENTING (1)

Kitab Negarakertagama di dalam pupuh II/1 menguraikan bahwa Puteri Gayatri alias Rajapatni pada usia lanjut menjadi wikuni/bhiksuni dan mangkat pada tahun 1350 M. Negarakertagama pupuh LXIII - LXIX menguraikan upacara pesta Sraddha pada tahun 1362 M sebagai peringatan dua belas tahun mangkatnya Rajapatni (Isteri Bhre Wijaya/pendiri Majapahit, yang juga ibu Tribhuwanottunggadewi). Negarakertagama pupuh XIX/1 memberitakan bahwa jenazah puteri Rajapatni dicandikan di Kamal Pandak, candi makamnya di Bayalangu yang dibangun pada tahun 1362 M disebut Prajnyaparamita puri. Baik tanah candi maupun arcanya diberkahi oleh pendeta Jnyanawidi. Piagam penanggungan 1296 M serta piagam Kertarajasa 1305 M, memuji-muji kecantikan puteri Gayatri (puteri bungsu raja Kertanegara), dan oleh karenanya paling dikasihi oleh raja Kertarajasa (raja Majapahit pertama). Atas petunjuk-petunjuk di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mungkin sekali arca Dewi Prajnyaparamita adalah merupakan arca puteri Gayatri (Rajapatni) yang dahulunya di letakkan di Candi Prajnyaparamita Puri di Bayalangu (Tulungagung). Prajnyaparamita adalah merupakan salah satu aspek seorang 'bodhisatwa' yang disebut paramita. Arti harafiahnya adalah : 'kesempurnaan dalam kebijaksanaan' yang merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transendental manusia. Istilah Dewi Pradjnyaparamita merujuk kepada personifikasi atau perwujudan konsep kebijaksanaan sempurna, yakni dewi kebijaksanaan transendental dalam aliran Budha Mahayana.

Foto di bawah ini menujukkan kondisi Candi Prajnyapamita puri yang terletak di desa Bayalangu (Tulungagung).

Reruntuhan Candi Prajnyaparamita-puri


 Potongan arca yang tersisa di Candi Prajnyaparamita-puri

Sebagai kelanjutan dari kerajaan Singasari, maka pada jaman kerajaan Majapahit terjadi pembauran antara pemujaan arwah leluhur dengan agama Hindu/Budha, sehingga sudah menjadi adat kebiasaan bahwa anggota keluarga kerajaan yang telah mangkat kemudian dicandikan, diperdewa dan arca pendewaannya diletakkan di dalam suatu candi makam, yang di dalam kitab Negarakertagama dikenal adanya dua puluh-tujuh candi makam yang diantaranya adalah candi Prajnyaparamita puri (candi Gayatri) di atas.

Sri Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) sebagai pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Majapahit juga diperdewakan sebagai  Hari-hara, suatu sinkretisma antara Siwa dan Wisnu dan dicandikan di candi Simping (Blitar). Arcanya sangat bagus, berupa seorang bangsawa bermahkota, bertangan empat, tangan kanannya yang atas memegang terompet tutup kerang, berpakaian kebesaran, berkain dengan aneka ragam pola batik. Adanya empat tangan dan terompet tutup kerang jelas menunjukkan bahwa arca tersebut merupakan kombinasi antara Siwa dan Wisnu yang disebut Hari-hara. Apa sebabnya pada arca tersebut dibubuhkan ciri Wisnu, sedangkan raja Kertarajasa (Raden Wijaya) jelas-jelas memeluk agama Siwa ? Mungkin sekali arca tersebut dibuat untuk memperingati jasa Kertarajasa (Sanggramawijaya) yang mampu merebut kembali kekuasaan pada tahun 1293 M dari tangan Jayakatwang yang dianggap sebagai perusak dunia. Dalam hal yang demikian ini Wisnu sebagai penjaga dunia, konon menitis ke dalam jiwa Sanggramawijaya yang berjaya membasmi Jayakatwang. 

Di bawah ini adalah gambaran Candi Simping (candi pendharmaan Sanggramawijaya) yang terletak di Desa Sumberjati, Blitar.

Reruntuhan Candi Simping di Sumberjati


Hiasan makara dan relief candi Simping

Selanjutnya silahkan baca bagian yang kedua.

3 komentar:

WILWATIKTA MADANI mengatakan...

Berarti arca Prajnyaparamita berasal dari Majapahit dan bukan dari Singasari

PRABHU WILWATIKTA mengatakan...

Adakah arca-arca lainnya ?

FH86-Clan mengatakan...

Berarti pada jaman Majapahit telah terjadi pembauran antara pemujaan arwah leluhur dengan agama Siwa-Budha