THE FRIEND OF ME

Jumat, 29 April 2011

ARTIKEL KOMPAS YANG SALAH TENTANG MAJAPAHIT

Artikel Kompas.com tentang "Majapahit dari masa ke masa" diterbitkan pada hari Senin 5 Januari 2009 pukul 18.18 WIB, memuat kesalahan tentang  akhir masa kerajaan Majapahit yang disebutkan berakhir pada tahun 1400 Saka (1478 M) akibat penguasaan oleh Demak.
Berikut ini copy artikel tersebut.



Secara pribadi, saya tidak mengetahui dari mana sumber penulisan sejarah Majapahit (yang sepenggal ini), sayapun tidak mengetahui apa referensi (sejarah) yang dipergunakan untuk menuliskan artikel ini.

Berikut ini akan saya uraikan perihal masa akhir kerajaan Majapahit tersebut dengan mempergunakan dua buah sumber buku sejarah yaitu Negarakretagama dan Tafsir sejarahnya (tulisan Prof. Dr. Slametmulyana) dan Sejarah Nasional Indonesia II (tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto).

Kedua buku (kitab) sejarah tersebut sama-sama menceritakan kepada kita bahwa kerajaan Majapahit tidaklah runtuh pada tahun 1400 Saka (1478 Masehi) akibat serangan Demak. Majapahit masih berdiri tegak sampai di sekitar tahun 1500 Masehi.


Buku Negarakretagama dan tafsir sejarahnya (terbitan Bhratara Karya Aksara tahun 1979) pada halaman 157 menjelaskan demikian :
"Sesudah tahun 1451 Majapahit diperintah oleh raja-raja yang tidak langsung merupakan keturunan rajasa-wangsa. Mereka itu adalah keturunan Bhre Pamotan Sang Sinagara, yang bergelar Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Yang jelas ialah bahwa dua diantara tiga raja keturunannya yang memerintah Majapahit sampai tahun 1527 mengambil nama Girindrawardhana. Mereka itu ialah : Bhre Keling Girindrawardhana Singawardhana Dyah Wijayakusuma dari tahun 1468 sampai 1474; Bhre Kertabhumi dari tahun 1474 sampai 1478 tidak diketahui siapa nama abhisekanya ; Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dari tahun 1486 sampai 1527 ....".

Buku Sejarah Nasional Indonesia II (terbitan Balai Pustaka tahun 1993) pada halaman 448 dan 449 menjelaskan demikian :
"Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M), saat keruntuhannya itu disimpulkan dalam candrasengkala sirna ilang kertining bumi, dan disebutkan pula bahwa keruntuhannya itu disebabkan karena serangan dari kerajaan Islam Demak. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang sampai kepada kita (penulis buku tersebut.red) ternyata bahwa pada saat itu kerajaan Majapahit belum runtuh dan masih berdiri untuk beberapa waktu yang cukup lama lagi. Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1486 masih menyebutkan adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Rajanya yang berkuasa pada waktu itu bernama Dyah Ranawijya yang bergelar Girindrawaddhana, bahkan ia disebutkan pula sebagai seorang Sri Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha. Berita Cina yang berasal dari jaman dinasti Ming (1368-1643) masih menyebutkan adanya hubungan diplomatik antara Cina dengan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499."

Dari uraian kedua buku tersebut yang tentunya didasarkan kepada bukti-bukti yang otentik dan sahih menjelaskan kepada kita bahwa Kerajaan Majapahit tidaklah runtuh pada tahun 1400 Saka (1478 M), bahkan masih tegak berdiri sampai sekitar tahun 1521 M.


Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH
Artikel ini telah dipublikasikan lewat Kompasiana.

8 komentar:

Bunga Majapahit mengatakan...

Waduh, waduh .... masih saja ada orang yang berlagak sok tahu tentang Majapahit, Majapahit tidak runtuh pada tahun 1400 Saka (1478 M), ini fakta sejarah dan dapat dibuktikan dengan adanya prasasti Majapahit yang berangka tahun 1486 M ....

Bams mengatakan...

Jejak kaki putro wayah Majapahit ..., Majapahit masih berdiri sampai disekitar tahun 1500 M

WILWATIKTA MADANI mengatakan...

Masih saja ada orang yang beranggapan bahwa Majapahit runtuh pada tahun 1400 S (1478 M)...., tolong, tolong dan tolong diperhatikan : PADA TAHUN 1478 M KERAJAAN MAJAPAHIT BELUM RUNTUH, DAN MASIH TEGAK BERDIRI SAMPAI TAHUN 1527 M. Demikian perbaikan.

MAK04 mengatakan...

Nah, dengan dijlentrehkan seperti uraian diatas disertai dengan bukti bukti yang ada....inilah info yang benar,

Hugo mengatakan...

Semoga saja dikemudian hari harian lokal di Indonesia lainnya tidak melakukan kesalahan seperti Kompas.

raden mengatakan...

Artikel di kompas tidak mutlak salah dan prasasti jiyu juga tidak sepenuhnya benar. Kenapa kita tidak berpikir lebih jernih sehingga dapat melihat segalanya jadi lebih transparan. Sebenarnya tidak hanya darmogandhul saja yang memuat "keruntuhan" Majapahit, tapi juga serat salokapatra dari jaman mataram islam, yang menyebutkan akibat dr peristiwa tsb, pintu pamanggungan tidak disejajarkan dengan masjid. Dan orang2 tengger menunjukkan ada exodus besar. Apakah tidak mungkin kalo yang ditulis di Darmoghandul itu benar, yakni puncak dari kesemrawutan Majapahit adalah serangan Demak, di mana setelah kekuasaaan Majapahit pusat runtuh(1400 saka), lalu Dyah Ranawijaya merebut kembali tahta Majapahit lalu memindahkannya ke Daha? sampai berakhirnya "sisa sisa" kerajaan Majapahit(1527) tsb Kalo tidak demikian, maka kisah2 Ki Ageng Pengging-yang masih cucu kertabhumi-yang dibunuh Sunan Kudus hanya mitos belaka

WONG JAWA mengatakan...

Adalah merupakan hal yang tidak bijak bila saudara menuliskan sejarah Majapahit berdasarkan berita-berita tradisi semacam serat Dharmagandul dan serat Salokapatra. Apalagi berita-berita tradisi tersebut dituliskan kurun waktu sekian ratus tahun setelah Majapahit runtuh. Berbeda halnya dengan Prasasti Jiwu, yang nyata-nyata dituliskan pada saat kerajaan Majapahit masih ada atau masih berdiri. Bagaimana mungkin saudara meragukan kebenaran apa yang tertulis dalam prasasti Jiwu. Prasasti Jiwu adalah merupakan salah satu sumber sejarah Majapahit yang sahih. Baiklah kita simak apa yang dituturkan oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia II, hal 450-451 demikian : "...Akan tetapi para penulis tradisi telah mengaburkan kenyataan-kenyataan sejarah tersebut (tentang runtuhnya Majapahit,-penulis-) dengan mengatakan bahwa kerajaan Majapahit telah runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M) karena serangan tentara Demak, yang dipimpin oleh Raden Patah".
Berikutnya kita simak penuturan kedua beliau pada buku yang sama di halaman 450, paragraf pertama : " ... Antara tahun 1518 M dan 1521 M itu penguasaan atas kerajaan Majapahit telah beralih dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Demak. Majapahit telah ditaklukkan dan kemudian dikuasai oleh Adipati Unus dari Demak. Bagaimana proses penaklukan Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit sesudah penaklukan itu tidak diketahui dengan pasti. Sumber-sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Dharmagandhul hanya dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana berlangsungnya penaklukan Majapahit oleh Demak". Konsekwensi logisnya adalah : " Apakah mungkin kita mempergunakan berita-berita tradisi yang tidak begitu jelas untuk menuliskan sejarah suatu peradaban, dalam hal ini sejarah Majapahit ?". Jawabannya adalah TIDAK MUNGKIN. Jelas akan menimbulkan kesalahan-kesalahan yang fatal, yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesatan-penyesatan sejarah. Sekian.

Hugo mengatakan...

@raden

Bukti2 otentik anda sepelekan dan serat2 maupun mitos/cerita yg berkembang malah anda percayai?

Anda hebat!!