HAKIKAT SEMBAH DALAM KAWRUH UTTAMOPADESA

hakikat sembah dalam kawruh uttamopadesa
Aspek Sembah pada umumnya mudah dipahami sebagai bentuk penghormatan, pengabdian, atau ibadah kepada sesuatu yang dianggap luhur. Namun, dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, sembah memiliki pengertian yang lebih luas. Sembah tidak hanya menunjuk pada tindakan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, tetapi berkaitan dengan bagaimana manusia menjalani seluruh kehidupannya.

Dalam pengertian tersebut, sembah bukan sekadar kegiatan lahir. Sembah merupakan sikap batin yang diwujudkan melalui pikiran, perasaan, kehendak, perkataan, dan perbuatan. Karena itu, hakikat sembah tidak dapat dipisahkan dari kualitas kehidupan manusia.

Pembahasan mengenai sembilan bentuk sembah secara lebih lengkap dapat dilihat dalam tulisan tentang Nawa Sembah Uttamopadesa.

Sembah sebagai bentuk Pengabdian.
Hakikat pertama dari sembah adalah pengabdian. Manusia tidak hidup hanya untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Kehidupan juga menuntut tanggung jawab terhadap sesama, lingkungan kehidupan, dan Sang Sumber Panguripan.

Pengabdian berarti menggunakan kehidupan yang dimiliki untuk menjalankan sesuatu yang memiliki nilai. Tubuh digunakan untuk melakukan perbuatan yang baik. Pikiran digunakan untuk memahami dengan jernih. Rasa digunakan untuk menumbuhkan ketulusan. Kehendak digunakan untuk menghasilkan tindakan yang utama.

Dengan demikian, pengabdian bukan hanya persoalan ucapan. Pengabdian harus memiliki bentuk nyata dalam kehidupan.

Sembah Tidak Berhenti hanya pada Bentuk Lahir.
Bentuk lahir dapat menjadi bagian dari sembah, tetapi bentuk tersebut bukan keseluruhan maknanya.

Seseorang dapat melakukan suatu tindakan yang secara lahir terlihat baik, tetapi apabila dilakukan dengan kesombongan, kepentingan pribadi, atau keinginan mendapatkan pujian, maka kualitas batinnya perlu dipertanyakan.

Sebaliknya, tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan, kejujuran, dan tanggung jawab dapat memiliki makna pengabdian yang mendalam.

Karena itu, Uttamopadesa menempatkan perhatian pada keselarasan antara keadaan batin dan tindakan lahir.

Sembah sebagai faktor Penataan Kehidupan.
Manusia memiliki berbagai unsur kehidupan yang perlu ditata. Raga perlu dirawat. Cipta perlu dijernihkan. Rasa perlu dituluskan. Karsa perlu diarahkan kepada keutamaan.

Penataan tersebut tidak berarti manusia harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum dapat menjalani sembah. Justru aspek sembah merupakan bagian dari proses penataan menuju sempurna.

Melalui laku yang terus-menerus, manusia belajar mengenali kekurangan dirinya, memperbaiki perilaku, dan mengarahkan kehidupannya kepada sesuatu yang lebih utama.

Dengan demikian, aspek sembah memiliki sifat praktis. Ia dapat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan Sembah dengan Kesadaran
Sembah juga berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap apa yang sedang dilakukan.

Perbuatan yang dilakukan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi kebiasaan mekanis. Manusia dapat melakukan sesuatu berulang kali tanpa memahami maknanya. Sebaliknya, tindakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran memungkinkan manusia mengamati niat, pikiran, rasa, dan kehendaknya sendiri.

Karena itu, sembah bukan sekadar melakukan, tetapi juga menyadari apa yang dilakukan dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan.

Sembah dan Perubahan Watak.
Tujuan mendasar sembah bukan sekadar membuat seseorang mengetahui lebih banyak tentang kehidupan. Sembah harus memberikan pengaruh terhadap watak.

Jika seseorang semakin memahami kebenaran tetapi tetap mudah dikuasai kesombongan, kebencian, iri hati, atau kepentingan pribadi, maka pengetahuannya belum sepenuhnya menjadi laku.

Sembah yang dihayati seharusnya membawa perubahan secara bertahap. Cipta menjadi lebih jernih, rasa menjadi lebih tulus, karsa menjadi lebih utama, dan perilaku menjadi semakin bertanggung jawab.

Perubahan tersebut merupakan salah satu ukuran penting dari penghayatan sembah.

Dari Pengabdian menuju Keselarasan.
Dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, sembah tidak hanya berhenti pada aspek pengabdian dalam arti umum. Perjalanan tersebut mengarah kepada keselarasan.

Keselarasan berarti tidak adanya pertentangan mendasar antara apa yang dipahami, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, dan apa yang dilakukan.

Manusia belajar menyelaraskan kehidupan lahir dan batinnya. Cipta tidak berjalan berlawanan dengan rasa. Rasa tidak berlawanan dengan karsa. Karsa tidak bertentangan dengan nilai kebaikan yang dipahami.

Semakin selaras kehidupan tersebut, semakin utuh pula pengabdian yang dijalankan.

Sembah kepada Sang Sumber Panguripan.
Pada akhirnya, hakikat sembah berkaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Sumber Panguripan.

Pengabdian kepada Sang Sumber Panguripan tidak dipahami hanya melalui kata-kata atau simbol, tetapi melalui cara manusia menjalani kehidupan yang telah diterimanya.

Menjaga kehidupan, berbuat baik, berlaku jujur, mengembangkan kebijaksanaan, menghormati sesama, serta menggunakan kemampuan diri untuk sesuatu yang bermanfaat merupakan bentuk nyata dari penghayatan tersebut.

Karena itu, sembah tidak perlu dibatasi hanya pada suatu keadaan tertentu. Selama manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran, ketulusan, dan tanggung jawab, di situlah ruang laku sembah berada.

Kesimpulan.
Hakikat sembah dalam Kawruh Uttamopadesa adalah pengabdian yang diwujudkan melalui keseluruhan kehidupan. Sembah tidak berhenti pada bentuk lahir, tetapi mencakup penataan raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan pemahaman terhadap jati diri.

Dengan demikian, sembah merupakan jalan untuk membentuk kehidupan yang semakin selaras. Ukurannya bukan semata-mata seberapa banyak seseorang melakukan tindakan tertentu, tetapi seberapa jauh kehidupannya mengalami perubahan menuju kejernihan, ketulusan, keutamaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

FAQ - Hakikat Sembah dalam Kawruh Uttamopadesa.

1. Apa hakikat sembah dalam Uttamopadesa?
Sembah adalah pengabdian yang diwujudkan melalui keseluruhan kehidupan lahir dan batin.

2. Apakah sembah hanya berupa ritual?
Tidak. Sembah mencakup sikap, kesadaran, pikiran, perasaan, kehendak, dan perbuatan.

3. Apa tujuan sembah?
Tujuannya adalah menata kehidupan menuju kejernihan, ketulusan, keutamaan, kebijaksanaan, dan keselarasan.

4. Mengapa sembah berkaitan dengan perubahan watak?
Karena penghayatan sembah seharusnya terlihat dalam perubahan cara berpikir, merasa, berkehendak, dan bertindak.

5. Apa hubungan sembah dengan Sang Sumber Panguripan?
Sembah merupakan bentuk pengabdian manusia kepada Sang Sumber Panguripan yang diwujudkan melalui kehidupan nyata.

6. Apakah sembah dapat dilakukan setiap hari?
Ya. Sembah dapat diwujudkan melalui setiap tindakan yang dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, dan tanggung jawab.

Komentar