MEMAHAMI MAKNA KESEMPURNAAN HIDUP

memahami makna kesempurnaan hidup
Kesempurnaan hidup sering dipahami melalui ukuran yang mudah dilihat. Harta, kedudukan, pendidikan, keberhasilan pekerjaan, kesehatan, hubungan sosial, maupun pencapaian tertentu sering digunakan untuk menggambarkan apakah seseorang telah menjalani kehidupan yang dianggap berhasil.

Namun, kehidupan manusia tidak sesederhana ukuran-ukuran tersebut. Seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kehidupannya belum tertata. Sebaliknya, seseorang yang kehidupannya sederhana dapat menjalani kehidupan dengan ketenangan, hubungan yang baik, dan kesadaran terhadap arah hidupnya.

Karena itu, pembicaraan mengenai kesempurnaan hidup perlu dilihat lebih dalam.
Kesempurnaan hidup tidak selalu berarti memiliki kehidupan tanpa kekurangan. Ia dapat dipahami sebagai proses menuju kehidupan yang semakin utuh, selaras, dan tertata.

Dalam konteks pemikiran Purnata Jiwana Uttamopadesa, gagasan mengenai keutuhan kehidupan tersebut dirumuskan oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Purnata Jiwana menempatkan kehidupan manusia sebagai sebuah perjalanan untuk terus menata diri melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Kesempurnaan Bukan Berarti Tanpa Kekurangan.
Tidak ada kehidupan manusia yang sepenuhnya bebas dari persoalan.

Ada keberhasilan dan kegagalan. Ada kebahagiaan dan kesedihan. Ada perjumpaan dan perpisahan. Ada keadaan yang dapat dipilih dan ada keadaan yang harus diterima.

Jika kesempurnaan hidup dimaknai sebagai kehidupan tanpa masalah, maka hampir tidak mungkin manusia mencapainya.

Karena itu, kesempurnaan lebih tepat dipahami sebagai keutuhan dalam menjalani kehidupan, bukan ketiadaan persoalan.

Manusia tetap dapat mengalami kesalahan, tetapi memiliki kesediaan untuk memperbaikinya.

Manusia tetap dapat mengalami kegagalan, tetapi mampu mengambil pelajaran darinya.

Manusia tetap dapat menghadapi kesulitan, tetapi tidak kehilangan arah dalam menjalaninya.

Dari sini terlihat bahwa kesempurnaan hidup bukan terutama persoalan keadaan luar, melainkan juga persoalan bagaimana manusia menata dirinya dalam menghadapi keadaan.

Antara Memiliki dan Menjadi.
Kehidupan modern sering memberikan perhatian besar kepada apa yang dimiliki manusia.

Rumah, kendaraan, pekerjaan, jabatan, pendidikan, penghasilan, dan berbagai pencapaian menjadi ukuran yang mudah dibandingkan.

Semua itu dapat mempunyai nilai dalam kehidupan. Namun memiliki sesuatu tidak otomatis membuat kehidupan menjadi utuh.

Seseorang dapat memiliki kedudukan tinggi tetapi memperlakukan sesama dengan buruk.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan luas tetapi tidak mampu menggunakan pengetahuannya secara bijaksana.

Seseorang dapat memiliki kekayaan tetapi kehidupannya dipenuhi pertentangan.

Karena itu, selain bertanya tentang apa yang dimiliki, manusia perlu bertanya:
“Menjadi manusia seperti apakah aku melalui semua yang kumiliki?”

Pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari sekadar pencapaian menuju pembentukan diri.

Kesempurnaan hidup kemudian tidak hanya diukur dari hasil yang diperoleh, tetapi juga dari kualitas manusia yang terbentuk melalui perjalanan tersebut.

Kehidupan sebagai Proses Menata Diri.
Manusia tidak pernah berhenti menghadapi keadaan baru.

Setiap pengalaman memberikan kesempatan untuk melihat kembali diri sendiri. Keberhasilan dapat menguji kerendahan hati. Kegagalan dapat menguji keteguhan. Kekayaan dapat menguji penggunaan kekuasaan. Kekurangan dapat menguji ketabahan. Pujian dapat menguji sikap terhadap diri sendiri. Kritik dapat menguji kemampuan menerima kekurangan.

Dengan demikian, berbagai keadaan kehidupan dapat menjadi ruang untuk menata diri.

Menata diri bukan berarti menolak kehidupan sebagaimana adanya. Menata diri berarti mengusahakan agar cara memahami, menghayati, dan bertindak tidak terus-menerus dikendalikan oleh dorongan yang merusak.

Di sinilah gagasan tentang keutuhan kehidupan menjadi penting.

Keselarasan dalam Diri Manusia.
Manusia memiliki kemampuan untuk memahami, merasakan, dan menentukan tindakan.

Ketiga unsur tersebut dapat berjalan selaras, tetapi dapat pula mengalami pertentangan.

Seseorang dapat mengetahui bahwa sesuatu tidak baik, tetapi tetap melakukannya.

Seseorang dapat merasa bahwa sesuatu menyakiti orang lain, tetapi tetap memilih melakukannya.

Seseorang dapat menginginkan sesuatu yang berbeda dari apa yang sebenarnya dipahaminya.

Ketidakselarasan tersebut dapat membuat kehidupan terasa terpecah.

Karena itu, kehidupan yang semakin utuh membutuhkan keselarasan antara apa yang dipahami, apa yang dihayati, dan apa yang dilakukan.

Dalam kerangka Purnata Jiwana, keselarasan tersebut dirumuskan melalui tiga dasar:

Ketiganya bukan sekadar istilah yang berdiri sendiri. Ketiganya menggambarkan hubungan antara memahami, menghayati, dan melakukan.

Kejernihan dalam Memahami.
Kehidupan yang utuh membutuhkan pemahaman yang tidak mudah dikuasai prasangka.

Manusia perlu mampu melihat keadaan dengan lebih jernih. Tidak semua yang terlihat harus langsung dipercaya. Tidak semua yang terdengar harus langsung dianggap benar. Tidak semua perasaan harus langsung dijadikan dasar tindakan.

Kejernihan memberikan ruang untuk mempertimbangkan keadaan secara lebih cermat.

Dengan pemahaman yang semakin jernih, manusia memiliki dasar yang lebih baik dalam menentukan arah hidup.

Ketulusan dalam Menghayati.
Kehidupan juga tidak hanya membutuhkan pemahaman.

Manusia perlu memiliki hubungan yang sehat dengan sesama. Hal tersebut membutuhkan kemampuan untuk menghormati, memahami, membantu, menerima perbedaan, dan menjaga hubungan tanpa selalu menjadikan kepentingan diri sebagai pusat.

Ketulusan tidak berarti selalu mengalah. Ketulusan juga tidak berarti menyetujui segala sesuatu. Ketulusan berarti menjaga dorongan batin agar tidak dikuasai iri, kebencian, kesombongan, atau pamrih yang merusak.

Dari sinilah hubungan antara manusia dapat berkembang menuju keselarasan.

Keutamaan dalam Bertindak.
Pemahaman dan penghayatan belum cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan.

Manusia akhirnya dikenal melalui apa yang dilakukannya. Kejujuran perlu diwujudkan dalam perkataan. Kepedulian perlu diwujudkan dalam tindakan. Tanggung jawab perlu diwujudkan dalam pilihan.

Karena itu, kehidupan yang utuh membutuhkan kehendak untuk melakukan sesuatu yang baik.

Kehendak tersebut perlu dipelihara agar tidak hanya mengikuti keinginan sesaat. Inilah pentingnya Karsa Utama, yaitu karsa yang diarahkan kepada kebaikan dan diwujudkan dalam laku.

Kesempurnaan sebagai Perjalanan.
Kesempurnaan hidup tidak perlu ditempatkan sebagai titik akhir yang sekali dicapai lalu selesai.

Ia lebih berguna jika dipahami sebagai perjalanan.

Setiap hari manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki cara memahami. Setiap perjumpaan memberikan kesempatan untuk menata hubungan. Setiap keputusan memberikan kesempatan untuk melatih kehendak.

Dengan demikian, kesempurnaan hidup bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ia justru tumbuh melalui perkara-perkara sederhana. Cara seseorang berbicara kepada keluarga. Cara seseorang menghadapi perbedaan. Cara seseorang memperlakukan orang yang membutuhkan. Cara seseorang menerima keberhasilan. Cara seseorang menghadapi kegagalan.

Semua itu merupakan bagian dari proses pembentukan kehidupan.

Purnata Jiwana sebagai Salah Satu Rumusan tentang Keutuhan Hidup.
Dalam pemikiran Kawruh Uttamopadesa, gagasan mengenai kehidupan yang semakin utuh tersebut dirumuskan dalam Purnata Jiwana.

Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dengan menempatkan keselarasan cipta, rasa, dan karsa sebagai dasar menuju keutuhan kehidupan.

Istilah ini tidak sekadar menunjuk kepada keadaan sempurna, tetapi juga kepada proses atau lampah untuk terus menata kehidupan.

Dengan demikian, Purnata Jiwana dapat dipahami sebagai salah satu kerangka pemikiran mengenai bagaimana manusia mengupayakan kehidupan yang semakin utuh melalui pembenahan diri.

Penutup.
Kesempurnaan hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang telah diperoleh manusia.
Ia juga berkaitan dengan bagaimana manusia menjalani apa yang telah dimilikinya.

Kehidupan yang semakin utuh tumbuh ketika pemahaman semakin jernih, penghayatan semakin tulus, dan kehendak semakin diarahkan kepada tindakan yang baik.

Kesempurnaan tidak berarti tidak pernah salah.

Kesempurnaan tidak berarti tidak pernah gagal.

Kesempurnaan tidak berarti kehidupan harus selalu sesuai dengan keinginan.

Kesempurnaan dapat dimaknai sebagai kesediaan untuk terus membenahi diri sehingga kehidupan semakin tertata dan selaras.

Dalam arah pemikiran tersebut, Purnata Jiwana Uttamopadesa menjadi salah satu rumusan yang membahas perjalanan menuju keutuhan kehidupan manusia melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

FAQ Memahami Makna Kesempurnaan Hidup.

1. Apa yang dimaksud kesempurnaan hidup?
Kesempurnaan hidup dapat dipahami sebagai proses menuju kehidupan yang semakin utuh, tertata, dan selaras, bukan sebagai keadaan tanpa kekurangan atau masalah.

2. Apakah kekayaan menentukan kesempurnaan hidup?
Kekayaan dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan keutuhan kehidupan seseorang.

3. Mengapa kesempurnaan disebut sebagai proses?
Karena manusia terus menghadapi pengalaman, kesalahan, perubahan, dan keadaan baru yang memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

4. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan kehidupan yang utuh?
Ketiganya menggambarkan hubungan antara memahami, menghayati, dan melakukan. Keselarasan ketiganya membantu manusia menata kehidupan secara lebih utuh.

5. Apa hubungan Purnata Jiwana dengan kesempurnaan hidup?
Purnata Jiwana merupakan rumusan dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa yang membahas tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

6. Siapa yang menyusun Purnata Jiwana Uttamopadesa?
Purnata Jiwana Uttamopadesa disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Komentar