Nama LESTARI dalam Paguyuban LESTARI Uttamopadesa tidak sekadar berfungsi sebagai identitas sebuah wadah. Nama tersebut mengandung gagasan mengenai pentingnya kejernihan batin dan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
LESTARI merupakan kependekan dari Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, sebuah ungkapan yang menempatkan kejernihan sebagai kekuatan yang menjaga manusia dalam menghadapi berbagai pengaruh kehidupan.
Makna tersebut dapat dipahami sebagai pandangan bahwa manusia membutuhkan kejernihan untuk mengenali dirinya sendiri. Kehidupan menghadirkan berbagai keadaan, pengalaman, keinginan, tekanan, hubungan sosial, serta perubahan keadaan. Semua itu dapat memengaruhi cara manusia berpikir, merasakan, mengambil keputusan, dan bertindak.
Karena itu, kesadaran bukan hanya kemampuan mengetahui sesuatu. Kesadaran juga berkaitan dengan kemampuan melihat keadaan diri sebelum menentukan sikap.
Liling Ening sebagai Kejernihan Batin.
Liling Ening dapat dipahami sebagai keadaan ketika manusia mampu melihat sesuatu dengan lebih jernih. Kejernihan tidak berarti seseorang tidak memiliki pikiran atau perasaan. Manusia tetap mempunyai cipta, rasa, dan karsa yang terus bergerak.
Yang menjadi persoalan adalah ketika gerak tersebut tidak disadari.
Seseorang dapat marah tanpa memahami sebab kemarahannya.
Seseorang dapat mengambil keputusan karena dorongan sesaat tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Seseorang juga dapat mengikuti pandangan orang lain tanpa terlebih dahulu memahami apakah pandangan tersebut sesuai dengan keadaan dirinya.
Dalam keadaan demikian, manusia mudah kehilangan arah.
Kejernihan batin memberikan ruang bagi manusia untuk melihat apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Sebelum memberikan tanggapan, manusia dapat mengenali pikirannya, merasakan keadaan batinnya, kemudian mempertimbangkan kehendak yang akan diwujudkan.
Dengan demikian, liling ening berkaitan erat dengan kesadaran terhadap diri.
Tameng Dhiri Bukan Berarti Menutup Diri.
Ungkapan Tameng Dhiri dapat menimbulkan pemahaman bahwa manusia harus melindungi dirinya dengan menjauh dari kehidupan. Namun, makna tersebut tidak harus demikian.
Tameng dalam konteks LESTARI lebih tepat dipahami sebagai kemampuan menjaga diri agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi berbagai pengaruh.
Manusia tetap hidup di tengah masyarakat. Ia tetap bekerja, berhubungan dengan orang lain, menghadapi persoalan, menerima keberhasilan maupun kegagalan. Tameng dhiri bukan berarti menolak semua keadaan tersebut.
Yang dijaga adalah kejernihan diri ketika menghadapi keadaan.
Ketika mendapatkan pujian, manusia tidak harus langsung merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ketika mendapatkan kritik, manusia tidak harus langsung membalas dengan kemarahan.
Ketika mengalami kegagalan, manusia tidak harus kehilangan seluruh harapan.
Kesadaran memberikan jarak antara peristiwa dan tanggapan manusia terhadap peristiwa tersebut.
Kesadaran sebagai Kekuatan Diri.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak tindakan manusia terjadi secara spontan. Spontanitas tidak selalu buruk, tetapi tindakan yang sepenuhnya dikendalikan oleh dorongan sesaat dapat membawa manusia pada keputusan yang tidak dipertimbangkan dengan baik.
Kesadaran membuat manusia mampu berhenti sejenak. Berhenti bukan berarti pasif. Berhenti merupakan kesempatan untuk melihat keadaan secara lebih utuh.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang sedang dirasakan?
Apa yang sedang dipikirkan?
Apa yang sebenarnya dikehendaki?
Apa akibat dari tindakan yang akan dilakukan?
Pertanyaan semacam itu membantu manusia membedakan antara dorongan sesaat dengan kehendak yang benar-benar dipahami.
Karena itu, tameng dhiri bukan kekuatan fisik. Tameng dhiri merupakan kejernihan yang memungkinkan manusia tidak mudah dikuasai oleh keadaan.
LESTARI dan Pembentukan Jati Diri.
Jati diri manusia tidak hanya ditentukan oleh nama, pekerjaan, kedudukan, atau lingkungan sosial. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan, tetapi dapat berubah.
Kesadaran terhadap diri memberikan dasar yang lebih dalam untuk memahami siapa dirinya dan bagaimana ia menjalani kehidupan.
Manusia dapat belajar mengenali kebiasaan berpikir, kecenderungan rasa, serta arah kehendaknya. Dari proses tersebut, manusia memiliki kesempatan untuk menata kehidupannya dengan lebih sadar.
Jati diri tidak hanya dipertahankan melalui identitas lahiriah, tetapi juga melalui kemampuan menjaga kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan arah karsa.
LESTARI dalam Perspektif Kawruh Uttamopadesa.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, penghayatan tidak berhenti pada pemahaman istilah. Kawruh perlu mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata.
Pengetahuan mengenai kesadaran akan memiliki arti apabila membantu manusia menjadi lebih mampu mengamati dirinya.
Pemahaman mengenai cipta, rasa, dan karsa juga perlu diwujudkan melalui cara manusia menjalani kehidupannya.
Karena itu, LESTARI dapat dipahami sebagai pengingat bahwa kejernihan perlu dilestarikan.
Kejernihan bukan sesuatu yang cukup diketahui sekali. Ia perlu terus dipelihara melalui mawas diri, penghayatan, dan laku kehidupan.
Dalam pengertian tersebut, LESTARI bukan sekadar nama organisasi atau paguyuban. LESTARI membawa gagasan mengenai bagaimana manusia menjaga dirinya melalui kejernihan.
Dari Kejernihan Menuju Laku.
Kejernihan batin tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman pribadi. Jika seseorang benar-benar memahami pentingnya kesadaran, pemahaman tersebut seharusnya tampak dalam kehidupannya.
Cara berbicara dapat menjadi lebih tertata. Cara menghadapi perbedaan dapat menjadi lebih dewasa. Cara mengambil keputusan dapat menjadi lebih bertanggung jawab.
Dengan demikian, Liling Ening Samongko Tameng Dhiri mempunyai arah praktis.
Kejernihan menjadi dasar untuk menjaga diri, sedangkan penjagaan diri menjadi dasar bagi laku yang lebih baik.
Inilah salah satu konteks penting untuk memahami Paguyuban LESTARI Uttamopadesa. LESTARI tidak hanya membawa nama, tetapi mengandung gagasan bahwa kesadaran dan kejernihan perlu terus dipelihara agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Penutup.
Liling Ening Samongko Tameng Dhiri menggambarkan hubungan antara kejernihan, kesadaran, dan kemampuan menjaga diri.
Tameng yang dimaksud bukan penghalang terhadap kehidupan, melainkan kemampuan untuk tetap sadar ketika menghadapi berbagai pengaruh.
Dengan kejernihan, manusia dapat melihat cipta, rasa, dan karsanya secara lebih sadar.
Dengan kesadaran tersebut, manusia mempunyai kesempatan untuk menentukan laku dengan lebih bertanggung jawab.
Karena itu, makna LESTARI dapat dipandang sebagai ajakan untuk terus melestarikan kejernihan diri dalam kehidupan.
FAQ - Liling Ening Samongko Tameng Dhiri.
1. Apa arti LESTARI dalam Paguyuban LESTARI Uttamopadesa?
LESTARI merupakan kependekan dari Liling Ening Samongko Tameng Dhiri, yang menekankan kejernihan sebagai kekuatan untuk menjaga diri.
2. Apa yang dimaksud Liling Ening?
Liling Ening menggambarkan kejernihan dalam melihat keadaan diri dan kehidupan secara sadar.
3. Apa arti Tameng Dhiri?
Tameng Dhiri merupakan kemampuan menjaga diri agar tidak mudah kehilangan arah karena pengaruh keadaan, pikiran, perasaan, maupun dorongan sesaat.
4. Apakah Tameng Dhiri berarti menjauh dari kehidupan?
Tidak. Tameng Dhiri lebih berkaitan dengan kemampuan tetap sadar dan tertata ketika menghadapi kehidupan.
5. Apa hubungan LESTARI dengan Kawruh Uttamopadesa?
LESTARI menggunakan Kawruh Uttamopadesa sebagai landasan penghayatan dan penerapan kesadaran dalam kehidupan.
6. Bagaimana makna LESTARI diterapkan?
Dengan menjaga kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan arah karsa agar diwujudkan dalam laku kehidupan.

Komentar