TIDAK BERHENTI SEBAGAI PENGETAHUAN

kawruh sejati tidak berhenti sebagai pengetahuan

Kawruh Sejati Tidak Berhenti sebagai Pengetahuan

Kawruh Sejati tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami suatu ajaran, gagasan, atau nilai kehidupan, tetapi juga berkaitan dengan sejauh mana pemahaman tersebut mampu mengubah cara seseorang menjalani kehidupannya.

Pengetahuan dapat berada dalam pikiran sebagai sesuatu yang dipahami, dapat pula menjadi bahan pembicaraan yang dapat dijelaskan dengan baik, tetapi kedalaman kawruh baru terlihat ketika pengetahuan tersebut mulai mempengaruhi cipta, rasa, karsa, budi, dan laku. Karena itu, seseorang tidak cukup hanya mengetahui sesuatu sebagai kebenaran, melainkan perlu melihat apakah kebenaran yang diketahuinya telah menjadi bagian dari cara hidup.

Dalam perjalanan memahami Kawruh Sejati, terdapat perbedaan yang penting antara mengetahui dan mengalami melalui laku. Mengetahui berarti seseorang memahami suatu hal secara pikiran, sedangkan mengalami melalui laku berarti pengetahuan tersebut telah dijalankan sehingga memberikan pengalaman nyata dalam kehidupan. Perbedaan ini sering kali baru terlihat ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya, karena pada saat itulah pengetahuan yang dimiliki diuji oleh kehidupan.

Seseorang dapat mengetahui bahwa kemarahan dapat merusak ketenteraman batin, tetapi ketika berhadapan dengan orang yang dianggap merugikan dirinya, kemarahan mungkin tetap muncul dan mendorongnya berbicara dengan kasar. Ia mengetahui pentingnya kesabaran, tetapi ketika menghadapi keadaan yang berulang kali mengecewakan, ia mungkin kehilangan kesabaran. Ia memahami pentingnya kejujuran, tetapi ketika mengatakan kebenaran dapat membuat dirinya kehilangan keuntungan, ia mungkin memilih menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.

Keadaan tersebut bukan berarti pengetahuan yang dimiliki tidak berguna. Justru keadaan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masih perlu diolah menjadi kesadaran dan laku. Di sinilah Refleksi Kawruh Sejati memiliki peranan penting, karena refleksi membantu manusia melihat jarak antara apa yang diketahui dengan apa yang dijalani.

Refleksi membuat seseorang berani bertanya kepada dirinya sendiri mengenai kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya. Apakah kawruh yang dipahami telah memengaruhi cara menghadapi masalah? Apakah setelah memahami nilai tertentu dirinya menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri, dan lebih menghargai sesama? Apakah pengetahuan tersebut hanya membuatnya mampu menjelaskan sesuatu kepada orang lain, atau benar-benar telah mengubah dirinya sendiri?

Pertanyaan seperti itu penting karena manusia mudah merasa telah memahami sesuatu hanya karena mampu membicarakannya. Kemampuan menjelaskan suatu nilai tidak selalu menunjukkan bahwa nilai tersebut telah menjadi bagian dari laku. Seseorang dapat berbicara panjang mengenai kesederhanaan, tetapi masih sangat membutuhkan pengakuan. Seseorang dapat menjelaskan tentang ketenteraman, tetapi mudah terseret pertengkaran. Seseorang dapat berbicara tentang kejujuran, tetapi masih mencari pembenaran ketika dirinya melakukan kesalahan.

Karena itu, ukuran kedalaman kawruh tidak semata-mata berada pada banyaknya pengetahuan yang dapat dikumpulkan, melainkan pada perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Pengetahuan yang semakin banyak tetapi tidak menghasilkan perubahan dapat membuat seseorang hanya menjadi semakin pandai menjelaskan, sedangkan kawruh yang benar-benar dihayati seharusnya membuat kehidupan menjadi semakin tertata.

Laku menjadi ruang untuk membuktikan pemahaman. Apa yang dipahami dalam pikiran akan menghadapi kenyataan ketika manusia berhubungan dengan sesama, menghadapi persoalan, mengalami kegagalan, memperoleh keberhasilan, menerima kritik, atau berhadapan dengan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam berbagai keadaan tersebut, pengetahuan mendapat kesempatan untuk diwujudkan.

Misalnya, seseorang memahami bahwa manusia perlu menghargai sesama. Nilai tersebut kemudian diuji ketika ia berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat. Apabila ia tetap mampu mendengarkan, tidak merendahkan, dan tidak memaksakan kehendak, maka pengetahuan tersebut mulai terlihat dalam laku. Demikian pula ketika seseorang memahami pentingnya mengendalikan diri, nilai tersebut diuji ketika ia memperoleh perlakuan yang menyakitkan tetapi tetap memilih tindakan yang tidak memperbesar persoalan.

Laku juga menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu berlangsung secara langsung. Seseorang mungkin masih mengalami kemarahan, tetapi kini mampu menyadari kemarahannya lebih cepat dan tidak langsung menindaklanjutinya dengan tindakan yang merugikan. Seseorang mungkin masih mengalami rasa kecewa, tetapi tidak lagi membiarkan kekecewaan tersebut menguasai seluruh tindakannya. Perubahan semacam itu merupakan perkembangan yang perlu dikenali melalui refleksi.

Kawruh yang menjadi laku juga tidak berarti seseorang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Kesalahan tetap dapat terjadi karena manusia masih menghadapi berbagai dorongan, keadaan, dan keterbatasan. Yang membedakan adalah adanya kesadaran untuk melihat kesalahan, mengakui keadaan diri, dan melakukan perbaikan.

Oleh karena itu, refleksi tidak seharusnya menghasilkan rasa bangga karena merasa telah mengetahui banyak hal. Semakin dalam seseorang memahami kawruh, seharusnya semakin besar pula kesediaannya untuk memeriksa dirinya sendiri. Kawruh bukan alat untuk menilai bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain, melainkan sarana untuk melihat dirinya dengan lebih jujur.

Pengetahuan yang telah menjadi laku juga akan terlihat melalui hubungan manusia dengan kehidupan sehari-hari. Cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, cara menggunakan kekuasaan, cara menerima keberhasilan, cara menghadapi kegagalan, serta cara menyikapi kesalahan semuanya dapat menjadi cermin apakah suatu nilai telah benar-benar dihayati.

Dengan demikian, Kawruh Sejati tidak berhenti pada pengetahuan karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat manusia mengetahui, melainkan membantu manusia mengalami perubahan dalam kehidupan. Pengetahuan menjadi awal, refleksi menjadi sarana untuk melihat keadaan diri, sedangkan laku menjadi tempat pembuktian bahwa kawruh benar-benar hidup.

FAQ
Apa perbedaan mengetahui dan mengalami melalui laku?
Mengetahui berarti memahami sesuatu dalam pikiran, sedangkan mengalami melalui laku berarti menjalankan pemahaman tersebut sehingga memengaruhi kehidupan nyata.

Mengapa pengetahuan belum tentu menghasilkan perubahan?
Karena pengetahuan dapat berhenti sebagai gagasan apabila tidak diterapkan dan tidak direfleksikan melalui pengalaman kehidupan.

Bagaimana mengetahui bahwa kawruh telah menjadi laku?
Perubahannya dapat terlihat melalui cara seseorang berpikir, merasakan, mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan memperlakukan sesama.

Apakah orang yang masih melakukan kesalahan berarti belum memiliki Kawruh Sejati?
Tidak. Yang penting adalah kesediaan menyadari kesalahan, belajar darinya, dan melakukan perbaikan.

Mengapa refleksi diperlukan?
Karena refleksi membantu melihat apakah terdapat keselarasan antara nilai yang dipahami dengan kehidupan yang dijalani.  

Komentar