PERJALANAN NAWA TRIDAYANING JANMA

perjalanan nawa tridayaning janma

Perjalanan Nawa Tridayaning Janma dari Pamrih Menuju Keselarasan Batin

Perjalanan manusia menuju kedewasaan batin bukanlah perjalanan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuan, melainkan perjalanan untuk mengubah cara dirinya memahami, merasakan, dan menjalani kehidupan.

Seseorang dapat mengetahui banyak hal tetapi belum tentu memiliki kejernihan batin. Ia dapat berbicara mengenai kebaikan tetapi belum tentu mampu menjadikannya kebiasaan. Karena itu, perkembangan batin perlu dilihat dari perubahan yang terjadi pada seluruh kehidupan manusia, bukan hanya dari banyaknya hal yang diketahui.

Dalam kawruh Uttamopadesa, perjalanan tersebut dapat dipahami melalui Nawa Tridayaning Janma, yaitu sembilan tataran perkembangan Cipta, Rasa, dan Karsa.

Kesembilan tataran ini menggambarkan perubahan dari keadaan ketika batin masih kuat dipengaruhi pamrih dan pepénginan hingga keadaan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa semakin menyatu dalam keselarasan.

Nawa Tridayaning Janma dengan demikian bukan sekadar uraian mengenai tingkatan batin. Ia merupakan gambaran perjalanan manusia dalam mengenali dirinya, membersihkan berbagai dorongan yang mengeruhkan batin, kemudian mengembangkan kemampuan untuk hidup dengan lebih jernih dan selaras.

Awal Perjalanan: Batin yang Masih Terikat.
Pada awal perjalanan, manusia cenderung memandang kehidupan berdasarkan kepentingan dirinya sendiri. Ia ingin mendapatkan sesuatu, menghindari sesuatu, memperoleh pengakuan, mempertahankan kedudukan, atau memenuhi berbagai keinginan.

Dalam keadaan demikian, Cipta mudah digunakan untuk mencari pembenaran. Rasa mudah berubah mengikuti keadaan yang menguntungkan atau merugikan dirinya, sedangkan Karsa bergerak untuk memenuhi apa yang diinginkannya.

Tidak berarti manusia berada dalam keadaan buruk secara mutlak. Keadaan tersebut merupakan bagian dari perkembangan yang perlu dikenali. Persoalannya muncul ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh dorongan tersebut.
Karena itu, perubahan bermula dari kesadaran.

Kesadaran Membuka Jalan Perubahan.
Kesadaran membuat manusia mulai memperhatikan apa yang terjadi di dalam dirinya. Ia mulai melihat bahwa kemarahan, ketakutan, iri, keinginan memperoleh pengakuan, atau dorongan untuk menguasai bukanlah sesuatu yang harus selalu diikuti.

Manusia mulai belajar memberikan jarak antara dirinya dengan gerak batinnya sendiri.

Ketika muncul pikiran tertentu, ia tidak langsung menganggapnya benar.

Ketika muncul perasaan tertentu, ia tidak langsung bertindak berdasarkan perasaan tersebut.

Ketika muncul keinginan, ia mulai mempertanyakan apakah keinginan itu memang perlu diwujudkan.

Inilah tumbuhnya kewaspadaan batin.

Kewaspadaan bukan sikap curiga terhadap segala sesuatu. Kewaspadaan adalah kemampuan untuk melihat gerak batin sebelum gerak tersebut berubah menjadi ucapan dan tindakan.

Dari Waspada Menuju Wening.
Setelah manusia mampu melihat gerak batinnya, tahap berikutnya adalah membersihkan apa yang membuat batin menjadi keruh.

Wening tidak berarti tidak memiliki pikiran atau perasaan. Wening berarti pikiran dan perasaan tidak lagi mudah dikuasai oleh dorongan yang membuat manusia kehilangan kejernihan.

Cipta menjadi lebih jernih dalam melihat persoalan. Rasa menjadi lebih tenang dalam menerima keadaan. Karsa menjadi lebih terarah dalam menentukan tindakan.

Pada tahap ini seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dilawan, tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua pendapat harus dipertahankan.

Tentrem Bukan Berarti Tanpa Masalah.
Perkembangan berikutnya adalah ketenteraman. Namun, tentrem tidak berarti kehidupan terbebas dari persoalan. Selama manusia hidup, berbagai keadaan akan tetap datang silih berganti.

Yang berubah adalah cara manusia menghadapi keadaan tersebut. Orang yang batinnya mulai tentrem tidak mudah runtuh hanya karena mengalami kegagalan. Ia juga tidak mudah kehilangan kendali hanya karena mendapatkan keberhasilan. Ia mampu menerima perubahan tanpa harus selalu melawan kenyataan.

Ketenteraman semacam ini lahir karena manusia mulai memahami bahwa tidak semua keadaan berada dalam kekuasaannya. Yang dapat ditata terutama adalah cara dirinya memandang, merasakan, dan bertindak.

Kawawas: Mampu Melihat Diri Sendiri.
Setelah batin semakin tenteram, kemampuan melihat menjadi semakin dalam. Manusia tidak hanya memperhatikan apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi mulai mampu mengamati bagaimana dirinya sendiri bereaksi terhadap keadaan tersebut.

Ia dapat melihat bahwa sebuah perkataan membuatnya tersinggung karena ada bagian dirinya yang ingin selalu dihargai. Ia dapat menyadari bahwa keberhasilan orang lain membuatnya tidak nyaman karena masih ada rasa membandingkan diri. Ia dapat melihat bahwa keinginan untuk menang dalam perdebatan kadang lebih kuat daripada keinginan untuk menemukan kebenaran.

Kemampuan melihat diri sendiri inilah yang menjadikan mawas diri semakin matang.

Pangrasa dan Tumbuhnya Kepekaan.
Perjalanan berikutnya membawa manusia kepada pendalaman Rasa. Ia mulai melihat bahwa kehidupannya tidak berdiri sendiri. Tindakannya dapat mempengaruhi orang lain. Ucapannya dapat meninggalkan bekas. Keputusannya dapat membawa akibat yang tidak selalu langsung terlihat.

Pangrasa membuat seseorang semakin peka terhadap kehidupan tanpa harus kehilangan kejernihan Cipta. Ia tidak hanya memikirkan apa yang menguntungkan dirinya, tetapi mulai mempertimbangkan bagaimana sesuatu berdampak terhadap sesama dan lingkungan kehidupan.

Kepekaan seperti ini bukan sekadar rasa kasihan. Ia merupakan kemampuan memahami kehidupan secara lebih luas.

Pepadhang: Pengetahuan yang Menjadi Kesadaran.
Pada tataran pepadhang, pemahaman manusia mulai memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak hanya mengetahui akibat suatu tindakan setelah tindakan itu terjadi, tetapi mulai mampu melihat hubungan antara sebab, dorongan batin, keputusan, dan akibatnya.

Di sini Kawruh Sejati mulai menemukan tempatnya dalam kehidupan. Pengetahuan yang benar memberikan penerangan bagi Cipta, penghayatan memberikan kedalaman bagi Rasa, dan kesadaran memberikan arah bagi Karsa. Manusia mulai mampu memilih tindakan bukan hanya karena takut terhadap akibat, tetapi karena memahami apa yang memang patut dilakukan.

Sampurna: Tidak Lagi Terpecah.
Keselarasan Tridaya semakin terlihat ketika manusia tidak lagi terlalu terpecah antara apa yang dipahami, dirasakan, dan dilakukan.
Apa yang dipandang benar oleh Cipta mulai dapat diterima oleh Rasa. Apa yang diterima oleh Rasa mulai diwujudkan oleh Karsa. Tidak banyak lagi jarak antara pengetahuan dan tindakan.

Dalam keadaan ini, seseorang tidak perlu terlalu banyak berbicara mengenai nilai yang diyakininya karena nilai tersebut mulai terlihat dalam kehidupannya.

Kejujuran tampak dalam perilakunya.

Kesederhanaan tampak dalam cara hidupnya.

Sih tampak dalam tindakannya.

Kewaspadaan tampak dalam cara ia menghadapi persoalan.

Kautaman tidak lagi menjadi kata yang dibicarakan, tetapi menjadi laku yang hidup.

Manunggal sebagai Keselarasan Tridaya.
Tataran terakhir menggambarkan keadaan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa semakin manunggal sebagai satu daya batin yang utuh.

Manunggal di sini bukan berarti ketiganya kehilangan fungsi masing-masing. Cipta tetap menjadi daya memahami, Rasa tetap menjadi daya menghayati, dan Karsa tetap menjadi daya mewujudkan. Yang berubah adalah tidak adanya pertentangan yang kuat di antara ketiganya.

Manusia berpikir dengan jernih, merasakan dengan wening, dan bertindak dengan kesadaran. Kehidupan batinnya menjadi lebih utuh karena apa yang dipahami, dirasakan, dan dilakukan berada dalam satu arah. Itulah inti perjalanan Nawa Tridayaning Janma.

Perjalanan ini pada dasarnya merupakan perjalanan kembali kepada keselarasan diri. Manusia tidak perlu menjadi orang lain untuk mencapainya. Ia hanya perlu terus melihat dirinya sendiri dengan jujur, membersihkan apa yang mengeruhkan batin, dan membuktikan pemahamannya melalui laku.

Dengan demikian, Nawa Tridayaning Janma dapat menjadi salah satu jalan pendalaman Kawruh Sejati. Ia mengingatkan bahwa perubahan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia mampu mengatakan tentang kebenaran, tetapi dari seberapa jauh kebenaran tersebut telah hidup dalam Cipta, Rasa, dan Karsanya.

Pada akhirnya, keselarasan Tridaya bukan hanya membawa ketenteraman bagi diri sendiri, tetapi juga memengaruhi hubungan manusia dengan kehidupan di sekitarnya.

Cipta yang jernih melahirkan pandangan yang lebih bijaksana, Rasa yang wening melahirkan kepekaan, dan Karsa yang tertata melahirkan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Dari sanalah laku kehidupan menjadi semakin selaras dengan Kawruh Sejati.

FAQ Perjalanan Nawa Tridayaning Janma.
Apa inti perjalanan Nawa Tridayaning Janma?
Intinya adalah perjalanan perkembangan Cipta, Rasa, dan Karsa dari keadaan yang masih banyak dipengaruhi pamrih dan pepénginan menuju keadaan batin yang semakin jernih, tenteram, sadar, dan selaras.

Apakah perkembangan Tridaya hanya terjadi di dalam batin?
Tidak. Perubahan batin seharusnya terlihat dalam kehidupan nyata. Cara berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, dan menjalankan kehidupan merupakan cermin perkembangan Tridaya.

Mengapa mawas diri penting dalam Nawa Tridayaning Janma?
Mawas diri memungkinkan manusia melihat gerak batinnya sendiri sebelum pikiran, perasaan, dan kehendak berubah menjadi tindakan. Dengan demikian, manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki arah sebelum kesalahan menjadi kebiasaan.

Apa hubungan Nawa Tridayaning Janma dengan laku?
Nawa Tridayaning Janma menggambarkan perkembangan batin, sedangkan laku merupakan perwujudan perkembangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya tidak dapat dipisahkan apabila Kawruh Sejati hendak benar-benar dihidupkan.

Apa tanda seseorang semakin dekat dengan keselarasan Tridaya?
Tandanya antara lain semakin jernih dalam berpikir, semakin tenang dalam menghadapi keadaan, semakin peka terhadap orang lain, tidak mudah dikuasai pamrih, serta semakin sesuai antara apa yang diketahui, dirasakan, dan dilakukan.  

Komentar