Ketenteraman yang Dijalani dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketenteraman batin sering dibicarakan sebagai keadaan yang ingin dicapai manusia, tetapi jarang dipandang sebagai sesuatu yang harus dilatih melalui kehidupan sehari-hari. Banyak orang menginginkan hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan kehidupan yang damai, tetapi masih menempatkan ketenteraman sebagai sesuatu yang akan datang setelah semua persoalan selesai.
Dalam pandangan Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa ketenteraman justru perlu dibangun ketika kehidupan sedang berlangsung. Ia tidak menunggu keadaan menjadi sempurna. Ia tumbuh melalui cara seseorang berpikir, merasakan, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.
Karena itu Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa dapat dipandang sebagai laku ketenteraman. Ketenteraman dimulai dari cara memandang keadaan
Prinsip pertama memberikan dasar yang sangat penting:
“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba; awit sajatining tentrem iku tuwuh saka jroning dhiri.”
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.
Misalnya, seseorang mendapat kritik. Ia dapat langsung marah, membalas, atau menyimpan kebencian.
Namun ia juga dapat berhenti sejenak, memeriksa isi pikirannya, lalu melihat apakah kritik tersebut memang memiliki kebenaran.
Ketenteraman bukan berarti tidak merasakan tersinggung. Ketenteraman berarti tidak membiarkan rasa tersinggung langsung menguasai seluruh tindakan.
Ngupadi weninging cipta.
Prinsip kedua mengajarkan:
“Ngupadi Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa.”
Dalam kehidupan sehari-hari, weninging cipta dapat dilatih dengan tidak mudah mengambil kesimpulan. Sebelum mempercayai suatu berita, seseorang dapat memeriksa kebenarannya. Sebelum menilai orang lain, ia dapat memahami keadaan secara lebih lengkap.
Cipta yang wening tidak berarti mengetahui segala sesuatu. Wening berarti tidak dikuasai oleh prasangka, kemarahan, keserakahan, atau keinginan untuk selalu membenarkan diri sendiri.
Tulusing rasa dalam hubungan.
Tulusing rasa dapat terlihat dari kemampuan memperlakukan orang lain tanpa pamrih tersembunyi.
Seseorang dapat membantu sesamanya tanpa harus selalu menunggu penghargaan. Ia dapat mendengarkan tanpa segera menghakimi. Ia dapat memaafkan tanpa menggunakan pengampunan sebagai alat untuk merasa lebih tinggi.
Tulusing rasa bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Kasih tetap membutuhkan kebijaksanaan dan wewates. Namun manusia tidak menjadikan kebencian sebagai dasar tindakannya.
Luhuring karsa dalam pilihan.
Karsa adalah daya untuk bertindak. Karena itu keluhuran karsa dapat dilihat dari pilihan yang dibuat manusia.
Ketika seseorang memiliki kesempatan memperoleh keuntungan dengan merugikan orang lain, di situlah luhuring karsa diuji.
Pengetahuan mengenai kebaikan mudah dibicarakan ketika tidak ada godaan. Namun ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan nilai yang diyakini, barulah kualitas laku terlihat.
Itulah sebabnya prinsip ketiga menegaskan bahwa weninging cipta, tulusing rasa, dan luhuring karsa harus kasunyatan ing laku.
Asih mring sesami.
Dalam kehidupan sehari-hari, kasih kepada sesama tidak harus diwujudkan dalam tindakan besar. Ia dapat hadir melalui hal-hal sederhana: berbicara dengan sopan, tidak mempermalukan orang lain, membantu ketika mampu, tidak menyebarkan keburukan orang lain, dan menghargai hak setiap manusia untuk menjalani kehidupannya.
Prinsip keempat:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Asih mring Sesami.”
menjadikan kasih sebagai salah satu ukuran apakah laku benar-benar telah berakar dalam diri.
Prasaja ing tindak tanduk.
Prinsip kelima:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Prasaja ing Tindak Tanduk.”
Prasaja berarti tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat. Dalam kehidupan sekarang, prinsip ini sangat penting karena manusia mudah terdorong untuk menunjukkan keberhasilan, kepemilikan, atau kelebihan dirinya kepada orang lain.
Prasaja bukan berarti menolak kemajuan. Seseorang tetap dapat memiliki pengetahuan, harta, jabatan, atau kemampuan. Yang dijaga adalah agar semua itu tidak menjadi alasan untuk merendahkan sesama.
Selaras ing tatanan panguripan.
Prinsip keenam mengingatkan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang luas. Tindakan seseorang memiliki akibat bagi keluarga, masyarakat, alam, dan kehidupan secara keseluruhan.
Karena itu ketenteraman tidak dapat dibangun hanya dengan memikirkan kepentingan diri sendiri.
Hidup selaras berarti mempertimbangkan akibat tindakan dan tidak memaksakan kehendak pribadi tanpa batas.
Tidak ngendelake nalar kumingsun.
Prinsip ketujuh:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Nora Ngendelake Nalar Kumingsun.”
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti berani mengakui bahwa diri sendiri dapat keliru. Orang yang selalu merasa paling benar akan sulit belajar. Ia akan menganggap nasihat sebagai serangan dan perbedaan sebagai ancaman.
Sebaliknya, manusia yang tidak ngendelake nalar kumingsun dapat menerima bahwa pemahamannya masih dapat diperbaiki.
Ngrumangsani wewatesaning panguripan janma.
Prinsip kedelapan mengajarkan:
“Kasunyataning Laku bisa katon lumantar Ngrumangsani Wewatesaning Panguripan Janma.”
Ini dapat diterapkan dengan menerima bahwa tubuh memiliki batas, waktu memiliki batas, kemampuan memiliki batas, dan kehidupan manusia memiliki akhir.
Kesadaran terhadap batas bukan kelemahan.
Justru dari situlah manusia belajar menggunakan waktunya dengan lebih bijaksana.
Ngendelake asihing Sang Sumber Panguripan.
Prinsip kesembilan:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan.”
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini menuntun manusia untuk tidak merasa bahwa dirinya berdiri sendiri. Kehidupan memiliki sumber yang melampaui kepentingan pribadi.
Dengan menyadari hal tersebut, manusia dapat menjalani kehidupan dengan rasa syukur, rendah hati, dan penuh asih.
Dari ajaran menjadi kebiasaan.
Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa akan kehilangan maknanya jika hanya dibaca. Setiap prinsip perlu diuji dalam kehidupan.
Ketika marah, apakah cipta masih dapat dijernihkan?
Ketika memperoleh keuntungan, apakah karsa tetap luhur?
Ketika mendapat pujian, apakah masih dapat prasaja?
Ketika menghadapi perbedaan, apakah masih dapat asih?
Ketika mengalami kegagalan, apakah masih dapat tenteram?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa sebagai tuntunan laku yang dapat diperiksa setiap hari.
Ketenteraman akhirnya bukan sesuatu yang hanya dirasakan pada saat tertentu. Ia menjadi buah dari kebiasaan hidup yang semakin tertata.
FAQ Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa.
Bagaimana menerapkan Nawa Prasanti Batin setiap hari?
Mulailah dari hal sederhana: menjaga kejernihan pikiran, menata rasa, mengendalikan kehendak, memperlakukan sesama dengan asih, dan memeriksa tindakan setiap hari.
Apakah Nawa Prasanti Batin membutuhkan latihan khusus?
Tidak harus. Kehidupan sehari-hari justru menjadi tempat utama untuk melatihnya.
Apa tanda bahwa ketenteraman mulai tumbuh?
Seseorang menjadi tidak mudah dikuasai kemarahan, tidak terlalu bergantung pada pengakuan, lebih mampu menerima keterbatasan, dan semakin selaras dalam tindakannya.
Mengapa laku menjadi penting?
Karena pengetahuan belum menjadi kasunyatan sebelum benar-benar diwujudkan dalam tindakan.
Apakah prasaja berarti hidup miskin atau sederhana secara materi?
Tidak. Prasaja terutama berkaitan dengan sikap dan tindak tanduk yang tidak berlebihan serta tidak dibuat-buat.

Komentar