Artikel Kompas.com tentang "Majapahit dari masa ke masa" diterbitkan pada hari Senin 5 Januari 2009 pukul 18.18 WIB, memuat kesalahan tentang akhir masa kerajaan Majapahit yang disebutkan berakhir pada tahun 1400 Saka (1478 M) akibat penguasaan oleh Demak.
Berikut ini copy artikel tersebut.
Secara pribadi, saya tidak mengetahui dari mana sumber penulisan sejarah Majapahit (yang sepenggal ini), sayapun tidak mengetahui apa referensi (sejarah) yang dipergunakan untuk menuliskan artikel ini.
Berikut ini akan saya uraikan perihal masa akhir kerajaan Majapahit tersebut dengan mempergunakan dua buah sumber buku sejarah yaitu Negarakretagama dan Tafsir sejarahnya (tulisan Prof. Dr. Slametmulyana) dan Sejarah Nasional Indonesia II (tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto).
Kedua buku (kitab) sejarah tersebut sama-sama menceritakan kepada kita bahwa kerajaan Majapahit tidaklah runtuh pada tahun 1400 Saka (1478 Masehi) akibat serangan Demak. Majapahit masih berdiri tegak sampai di sekitar tahun 1500 Masehi.
Buku Negarakretagama dan tafsir sejarahnya (terbitan Bhratara Karya Aksara tahun 1979) pada halaman 157 menjelaskan demikian :
"Sesudah tahun 1451 Majapahit diperintah oleh raja-raja yang tidak langsung merupakan keturunan rajasa-wangsa. Mereka itu adalah keturunan Bhre Pamotan Sang Sinagara, yang bergelar Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Yang jelas ialah bahwa dua diantara tiga raja keturunannya yang memerintah Majapahit sampai tahun 1527 mengambil nama Girindrawardhana. Mereka itu ialah : Bhre Keling Girindrawardhana Singawardhana Dyah Wijayakusuma dari tahun 1468 sampai 1474; Bhre Kertabhumi dari tahun 1474 sampai 1478 tidak diketahui siapa nama abhisekanya ; Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dari tahun 1486 sampai 1527 ....".
Buku Sejarah Nasional Indonesia II (terbitan Balai Pustaka tahun 1993) pada halaman 448 dan 449 menjelaskan demikian :
"Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M), saat keruntuhannya itu disimpulkan dalam candrasengkala sirna ilang kertining bumi, dan disebutkan pula bahwa keruntuhannya itu disebabkan karena serangan dari kerajaan Islam Demak. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang sampai kepada kita (penulis buku tersebut.red) ternyata bahwa pada saat itu kerajaan Majapahit belum runtuh dan masih berdiri untuk beberapa waktu yang cukup lama lagi. Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1486 masih menyebutkan adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Rajanya yang berkuasa pada waktu itu bernama Dyah Ranawijya yang bergelar Girindrawaddhana, bahkan ia disebutkan pula sebagai seorang Sri Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha. Berita Cina yang berasal dari jaman dinasti Ming (1368-1643) masih menyebutkan adanya hubungan diplomatik antara Cina dengan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499."
Dari uraian kedua buku tersebut yang tentunya didasarkan kepada bukti-bukti yang otentik dan sahih menjelaskan kepada kita bahwa Kerajaan Majapahit tidaklah runtuh pada tahun 1400 Saka (1478 M), bahkan masih tegak berdiri sampai sekitar tahun 1521 M.
Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH
Artikel ini telah dipublikasikan lewat Kompasiana.

Komentar
Berikutnya kita simak penuturan kedua beliau pada buku yang sama di halaman 450, paragraf pertama : " ... Antara tahun 1518 M dan 1521 M itu penguasaan atas kerajaan Majapahit telah beralih dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Demak. Majapahit telah ditaklukkan dan kemudian dikuasai oleh Adipati Unus dari Demak. Bagaimana proses penaklukan Majapahit oleh Demak dan bagaimana nasib para penguasa Majapahit sesudah penaklukan itu tidak diketahui dengan pasti. Sumber-sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Dharmagandhul hanya dengan samar-samar memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana berlangsungnya penaklukan Majapahit oleh Demak". Konsekwensi logisnya adalah : " Apakah mungkin kita mempergunakan berita-berita tradisi yang tidak begitu jelas untuk menuliskan sejarah suatu peradaban, dalam hal ini sejarah Majapahit ?". Jawabannya adalah TIDAK MUNGKIN. Jelas akan menimbulkan kesalahan-kesalahan yang fatal, yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesatan-penyesatan sejarah. Sekian.
Bukti2 otentik anda sepelekan dan serat2 maupun mitos/cerita yg berkembang malah anda percayai?
Anda hebat!!